Medan, 7 Agustus 2026. Upaya membangun masa depan anak dari keluarga kurang mampu tidak hanya dilakukan melalui penyediaan akses pendidikan. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Medan, pembentukan karakter juga menjadi bagian penting dalam proses belajar siswa agar mereka tumbuh lebih mandiri, disiplin, dan percaya diri.
Pada pekan pertama Agustus 2026, para siswa mengikuti program Taruna Mengajar yang berlangsung sejak 3 hingga 7 Agustus. Kegiatan tersebut menghadirkan metode pembelajaran yang berbeda dari kegiatan akademik sehari-hari. Sejumlah materi diberikan secara interaktif, termasuk melalui kegiatan di ruang terbuka dan pemanfaatan media audiovisual.
Program tersebut memberi perhatian pada nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, rasa saling menghormati, serta wawasan kebangsaan. Para siswa juga diberikan pemahaman mengenai perilaku positif yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah, asrama, keluarga, maupun masyarakat.
Pendidikan Tak Hanya Mengejar Nilai Akademik
Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Medan berdiri di kawasan seluas sekitar enam hektare. Sekolah ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, terutama mereka yang masuk kelompok desil 1 dan desil 2. Sebagian siswa sebelumnya bahkan pernah mengalami hambatan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga.
Karena latar belakang tersebut, proses pendidikan dirancang tidak hanya untuk mengejar kemampuan akademik. Sekolah juga berupaya membangun pola hidup yang lebih teratur melalui sistem berasrama.
Kehidupan di asrama membuat siswa terbiasa mengikuti jadwal sejak bangun tidur, beribadah, makan, belajar hingga menjalankan kegiatan bersama. Rutinitas tersebut diharapkan secara perlahan membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab tanpa hanya mengandalkan aturan di ruang kelas.
Program Taruna Mengajar sendiri merupakan bagian dari kolaborasi Kementerian Sosial dan Kementerian Pertahanan. Kegiatan itu melanjutkan proses pembinaan setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS.
Kemandirian Jadi Modal Menghadapi Masa Depan
Pembentukan karakter dinilai penting karena tantangan yang akan dihadapi siswa tidak berhenti setelah mereka menyelesaikan pendidikan formal.
Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Agus Suriadi, menilai pendidikan yang memberi perhatian pada kepribadian dapat membantu siswa mengenali potensi diri sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Kemandirian menjadi salah satu kemampuan yang dianggap penting untuk dikembangkan. Dengan sikap tersebut, siswa diharapkan mampu berpikir lebih kritis, membuat keputusan, serta bertanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil.
Pendidikan berasrama juga dinilai memberi ruang bagi siswa untuk belajar mengatur waktu, menjaga lingkungan, hidup bersama orang lain, dan membangun kebiasaan saling menghargai.
Pembentukan karakter tersebut tidak dapat berhenti di lingkungan sekolah. Keterlibatan keluarga dan masyarakat diperlukan agar kebiasaan positif yang diperoleh siswa tetap diterapkan ketika mereka berada di luar lingkungan pendidikan.
Membuka Peluang Memutus Rantai Kemiskinan
Keberadaan Sekolah Rakyat membawa misi yang lebih luas dibanding menyediakan tempat belajar. Pendidikan bagi anak dari keluarga prasejahtera diharapkan dapat membuka peluang perubahan sosial dalam jangka panjang.
Akses pendidikan yang lebih baik memberi kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan, memperluas pilihan hidup, serta memperoleh kesempatan yang sebelumnya mungkin sulit mereka dapatkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Pembinaan karakter menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pengetahuan akademik memang diperlukan, tetapi keberanian mengambil keputusan, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama juga menjadi modal ketika siswa memasuki kehidupan setelah sekolah.
Perubahan positif mulai terlihat dalam keseharian sejumlah siswa. Pihak sekolah menyebut keluarga merasakan perkembangan dalam sikap anak, antara lain menjadi lebih sopan, peduli terhadap keluarga, menghargai orang lain serta memiliki kebiasaan yang lebih teratur.
Program abang asuh dan adik asuh yang diterapkan di lingkungan Sekolah Rakyat turut mendorong siswa membangun kepedulian terhadap sesama. Mereka dibiasakan untuk saling membantu dan tidak menjalani kehidupan asrama secara individual.
Melalui kombinasi pendidikan akademik, kehidupan berasrama dan penguatan karakter, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Medan diarahkan menjadi ruang bagi siswa untuk membangun kembali kepercayaan terhadap masa depan.
Bagi anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses pendidikan akibat kondisi ekonomi keluarga, kesempatan belajar tersebut bukan hanya soal kembali duduk di ruang kelas. Pendidikan menjadi jalan untuk memperoleh kemampuan, membangun karakter, mengejar cita-cita dan pada akhirnya memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari rantai kemiskinan antargenerasi.
Baca Juga Berita : Siswi SD Asal Labuhanbatu Peraih Emas Olimpiade Asia Terima Apresiasi Rumah dari Gubernur Sumut