PB ISMI Ajak Pakar Maritim Bahas Masa Depan Selat Malaka Lewat Makalah Ilmiah

PB ISMI mengajak pakar maritim menulis makalah ilmiah untuk membahas masa depan Selat Malaka, mulai dari ekonomi biru hingga keberlanjutan kawasan. PB ISMI Ajak Pakar Maritim Bahas Masa Depan Selat Malaka Lewat Makalah Ilmiah

Medan, 25 Juni 2026. Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia atau PB ISMI membuka ruang bagi para pakar, akademisi, dan pemerhati kemaritiman untuk ikut menyumbangkan gagasan melalui penulisan makalah ilmiah tentang masa depan Selat Malaka. Ajakan tersebut menjadi bagian dari persiapan konferensi internasional yang akan mengangkat isu strategis kawasan laut penting di Asia Tenggara itu.

Selat Malaka selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Posisinya yang menghubungkan aktivitas ekonomi, perdagangan, keamanan laut, hingga kehidupan masyarakat pesisir membuat kawasan ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara di sekitarnya. Karena itu, PB ISMI menilai pembahasan mengenai masa depan Selat Malaka perlu dilakukan secara serius melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif.

Ketua Harian PB ISMI, Ilmi Abdullah, menyampaikan bahwa makalah yang diajukan para peserta akan mengacu pada tema besar mengenai arah masa depan Selat Malaka. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain regulasi global dari International Maritime Organization atau IMO, ekonomi biru, keberadaan masyarakat adat laut dan pesisir, serta keberlanjutan kawasan dalam jangka panjang.

Kajian Selat Malaka Dinilai Semakin Penting

Pembahasan mengenai Selat Malaka tidak lagi sebatas pada jalur pelayaran dan perdagangan. Kawasan ini juga berkaitan dengan ketahanan ekonomi, perlindungan lingkungan laut, tata kelola pesisir, serta hak masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut. Melalui forum ilmiah tersebut, PB ISMI ingin menghadirkan sudut pandang yang lebih luas dan berbasis pengetahuan.

Isu ekonomi biru menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Konsep ini menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dari sektor kelautan harus tetap menjaga keseimbangan lingkungan dan tidak mengabaikan masyarakat pesisir sebagai bagian penting dari ekosistem maritim.

Selain itu, keberadaan masyarakat adat laut dan pesisir juga menjadi bagian dari tema pembahasan. Kelompok masyarakat ini dinilai memiliki pengetahuan lokal, sejarah, dan hubungan sosial yang kuat dengan laut. Karena itu, suara mereka perlu masuk dalam diskusi besar mengenai arah pembangunan kawasan Selat Malaka.

Pengajuan Makalah Dibuka hingga September

PB ISMI membuka masa pengajuan makalah mulai 25 Juni hingga 1 September 2026. Sementara itu, penerbitan surat penerimaan atau Letter of Acceptance dijadwalkan berlangsung mulai 1 Juli hingga 20 September 2026. Rangkaian konferensi gabungan dijadwalkan digelar pada 22 hingga 24 September 2026 di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Pemilihan Batam sebagai lokasi konferensi dinilai relevan karena daerah tersebut berada dekat dengan kawasan strategis Selat Malaka. Batam juga memiliki posisi penting dalam aktivitas perdagangan, industri, dan konektivitas regional, sehingga menjadi tempat yang tepat untuk mempertemukan gagasan akademik, kebijakan, dan kepentingan maritim.

Konferensi ini tidak hanya ditujukan sebagai ruang penyampaian makalah, tetapi juga sebagai forum pertukaran gagasan lintas negara. Sejumlah peserta dari luar negeri, termasuk dari Turki dan Malaysia, disebut telah mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran peserta internasional menunjukkan bahwa isu Selat Malaka memiliki daya tarik dan kepentingan yang melampaui batas nasional.

PB ISMI berharap forum ini dapat menjadi tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu, mulai dari hukum laut, ekonomi kelautan, lingkungan, sosial budaya, hingga kebijakan publik. Dengan melibatkan banyak pihak, pembahasan mengenai Selat Malaka diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi mampu melahirkan rekomendasi yang lebih konkret.

Keterlibatan para ahli melalui makalah ilmiah juga dianggap penting untuk memperkuat dasar pengambilan keputusan di masa depan. Gagasan yang disusun berdasarkan riset dan pengalaman lapangan dapat menjadi masukan bagi pemerintah, lembaga internasional, akademisi, maupun pelaku kepentingan di sektor maritim.

Melalui agenda ini, PB ISMI ingin menegaskan bahwa masa depan Selat Malaka perlu dibicarakan secara terbuka, ilmiah, dan berkelanjutan. Jalur laut tersebut bukan hanya ruang lalu lintas kapal, tetapi juga kawasan hidup, sumber ekonomi, dan bagian penting dari identitas maritim masyarakat di sekitarnya.

Dengan dibukanya kesempatan penulisan makalah ini, para pakar dan pemerhati kemaritiman memiliki peluang untuk ikut menyusun arah pemikiran baru tentang Selat Malaka. Forum tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi kawasan ini sebagai jalur strategis yang dikelola secara adil, aman, dan berkelanjutan.

tamanslot77 kingcobratoto vipertoto